cerpen
_CERPEN!_
Liburan DI Kampung Tibai.
Penulis : M. B
Pada tahun 2017 saya natalan di bomomani dan tanggal 28 desember saya bersama sobat dan anak-anaknya, kami menuju ke kampung tibai. Kali/sungai pertama yang kami menyeberan adalah kali Degeuwo dan setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami, dalam perjalanan banyak kali kecil yang kami menyeberang dan di temani oleh suarah burung yang sangat merdu dan angin sejuk yang benar benar menyatakan diaroma nyata alam degeuwo yang terbuka.
Dan setelah itu kami tibah dibukit Tagonei. ‘’Astaga gunungnya itu benar-benar tidak bisa di panjat" tapi kami bisa lewati bersama dan tas saya di pikul oleh adik mako, dan tasnya adik mako di pikul oleh adik perempuannya dan saya tidak membawa apapun, saat kami panjat gunung Tagonei tas saya yang di pikul ade mako itu terjatuh sampai ke bawa dan ade mako kembali mengambilnya lagi setelah kami lewati bukit Tagonei kami tiba di Tagonei dimii dan kami isterahat penuh di tagonei dimii setelah kami isterahat dan makan kami melanjutkan perjalanan kami lagi, dan dari tagonei dimii kampung tibai semaking dekat dan kami sampai di jembatan gantung ipigaa setelah kami sampai sobat saya pergi cari singkon untuk makanan babi.
Anak perempuan dari sobat saya, menjaga adik bungsu sedangkan saya adik mako dan adik ben anaknya sobat saya kami bertiga mandi di kali/sungai ipigaa setelah mandi kami jemur pakaian sambil tunggu sobat saya pulang, tidak lama kemudiang sobat saya datang dan sobat membawakan tebu buat kami, dan kami sambil duduk di jembatan gantung kali ipigaa kami mimis tebu sambil menikmati derasnya kali ipigaa dan keindahan alam degeuwo. Setelah itu kami langsun ke kampung Tibai kali ipigaa adalah kali besar yang kedua, kali besar yang ketiga yang kami menyeberan adalah kali idumaii, kali idumaii adalah kali besar yang terakhir yang kami menyeberang, setelah itu kami sampai di kampung tibai.
Besoknya adik mako, mesak anak di kampung tibai itu yang baru saja saya kenal, kami bertiga ke belakan gereja karna di belakan gereja ada buah cokelat dan kami mimis buah cokelat itu, waktu itu nene saya mencari kita bertiga dan karna nene larang kami mimis bua cokelat, karna itu kami berbohong kepada nene “kami dari rumahnya tete butuboo habis makan pepaya’’ kata saya kepada nene, dan nene percaya dengan perkataan saya.
Besoknya kami bertiga ke kebun untuk memetik jambu, kami memetik jambu di dekat kebun orang dan setelah itu kami jalan ke kebunya mesak untuk petik jambu disitu, waktu itu hujan jadi kami lansung pulang ke rumah.
Hari yang ketiga saya, sobat, anak perempuannya, sobat amoye, dan teman marten degei kami ke kebun, sobat amoye membela kayu di bantu oleh marten degei, dan waktu itu saya makan pepaya dan mimis tebu, dan setelah itu kami membawa kayu bakar dan lansung pulang ke rumah setelah sampai di rumah sobat mengajak saya , dan anak perempuannya ke kebun dekat kali/sungai udumaii . setelah tibah sobat saya mengali ubii dan mengambil sayur, dan kami berdua jalan kekali ipigaa untuk mandi setelah mandi kami berdua menunggu sobat sambil jemur pakaian tidak lama kemudiang sobat saya datang setelah itu kami ke kebun sebelah mengambil singkong dan memetik daun ubi untuk makanan babi dan kami berdua jalan ke mako dan teman temanya, waktu mako, mesak dan teman temannya mandi saya menunggu mereka di batu besar, begini adiknya mesak mau berenan ke sebelah tapi dia hampir saja dapat tertelan oleh arus air yang begitu deras, tapi untungya adik mako melihatnya dan menarik dia kembali, setelah kejadian itu kami pulang ke rumah.
Hari yang ke empat saya bersiap-siap untuk pulang ke bomomani di antar oleh nene, dan kami star jalan dari kampung tibai pagi pagi betul setelah sampai di jalang raya saya bersama nene ke kebun diyaikunu milik nene saya untuk cabut kacang, setelah cabut kacang dan cari sayur nenek kasih saya untuk bawa di bomomani, dan nenek balik ke kampung tibai dan saya sendiri jalan ke arah rumah orang diyaikunu sambil tunggu ojek dan mobil penumpang yang lewat karna hari sudah petang saya memutuskan untuk mermalam di diyaikunu di rumah kakak laki laki saya dan di sana saya di layani dengan baik oleh kakak saya, setelah hari pagi yang cerah mencemput, saya berpamitan dengan kaka saya dan saya pulang ke Bomomani tercinta.
Demikian kisah cerita singat saya tentang perjalanan ke kampung Tibai untuk menengok nenek saya. Semoga cerita singkat ini dapat berkenan di hati saudara/I yang membacanya.
“Terima Kasih”
Nabire, 17 Mei 2020
Magdalena : Butu