PADA SEBUAH KAPAL
PADA SEBUAH KAPAL
Perpisahan yang panjan dengan semua sanak, semua keluarga, semua kawan dan semua kenangan mendebarkan karena aku tengah menuju ke suatu titik yang jau dari bayanganku suatu titik yang tak pernah aku jejakkan sebelumnya bahkan dalam selintasan pikiranku.
Hatiku sudah memutuskan bahwa aku harus meninggalkan semuanya
Aku kini berubah status menjadi anak rantau yg akan menuju ke tempat yg asing
Manokwari nama tempat asing itu, betapa banyak sejarah yang menyelimuti kota yang di juluki kota injil ini begitu banyak kabar yang memberitakannya dan aku menuju ke sana.
Stom kapal sudah berbunyi dua kali, belarti sebentar lagi ayah, bunda, kakak, adik dan tetengga akan melepaskanku dalam perut kapal di dermaga,
aku belum pernah melihat pantai,
aku anak gunung,
pegunungan adalah sahabatku,
oleh gunung dan alam membentuk jati diriku,
oleh sebab itu aku baro merasakan suasa pantai.
Peringatan yang terdengar seakan-akan menjadi peringatan bahwa aku sebentar
Lagi akan berada dalam kesepian yang sesunggu-sunggunya ,
Kesepian yang bukan dalam angan,
Tapi kesepian yang benar-benar mengada ,
Yaa, aku yang sedang berada di kapal ini.
Satu persatu keluarga turun dari perut kapal , Satu persatu mereka hilang dalam kerumunan banyak orang,
Satu persatu kini menjadi kenangan.
Lalu pelabuhan samabusa serta mereka yang sangat aku cintai Perlahan menghilang bersamaan dengan bersicepatnya Kapal membelah lautan biru sore itu
Aku berangkat diantarkan senja sore itu,
Senja menemani kesepianku di kapitaria,
Dalam kesunyian itu muncul beribu-ribu pikiran, takut, sedi, bahagia, semuanya menjadi satu .
Dan dengan sebuah kapal yang asing,
Dan pergi menuju sebuah titik yang tak kalah asingnya,
Aku menitikkan air mata,
Air mata keterasingan .
Lautan bebas 25 juli 2020
Magda taniwo B