BUDAYA
KEBUDAYAAN SUKU MEE
DI SUSUN OLEH :
NAMA : MAGDALENA BUTU
1. Asal-usul suku mee
Suku mepago adalah : salah satu suku yang belasar dari pegunungan tengga Papua,tepatnya di provinsi Papua,dan di daerah suku mepago terdiri dari lima kabupaten yaitu
Kab : dogiyai
Kab : paniai
Kab : deiyai
Kab : intan jaya
Kab : mimika
Satu suku namun memiliki kebudayaan yang sedikit berbeda seperti
Cara berburu, Cara berkebung , Cara nika adat , Cara meramu
Asal-usul marga dan lain-lain.
Dan di sini saya lebih khusus menjelaskan di bagian kab dogiyai dan yang lebih khusus di daerah mapia dan degeiwo.
Dalam menulusuri asal-usul suku mee di bagian daerah Mapia dan Degeiwo, salah satu cara yang di lakukan adalah melalui cerita nenek moyan ke anak cucunya.
PEMBAGIAN TUJUH MARGA DARI DEGEUWO
Marga suku mee bagian daera mapia dan degeuwo kami percaya sesuai cerita nenek moyan kami yaitu : pada awalnya ada seorang yang bernama eyaakan dengan sekeluarga mendiami di bawa kaki gunung gebaii, eyaakan mempunyai dua anak laki-laki, satu bernama uwaii kagaa satu juga bernama
uwii kagaa, pada suatu hari uwaii kagaa ingin melihat laut, besok harinya pagi-pagi betul sebelum orang-orang bangun dia keluar menuju muarah kali beduu dia berjalan sampai mendengar bunyi ombak, sebelum dia sampai di pantai dia merasa kaya ada yang mengikuti dia teryata benar ada dua orang yang mengikuti dia dari belakan, dan dia pun kembali bersama dua orang itu, waktu mereka duduk beristirahat, mereka mendengar suara tampah melihat orangnya dan bunyinya adalah : ‘’ tempat yang kamu tinggal di kaki gunung gebaii telah terkena lonsor kegelapang jadi kamu tidak usa kembali ‘’ setelah mendengar suarah tersebut mereka jari jalan masing-masing .
Lalu uwaii kagaa berjalan sendiri, dalam perjalanan dia bertemu dengan seorang gadis dan dia pun jatuh cinta dengan gadis tersebut, dan mereka dua menika dan uwaii kagaa membuat rumah pondok di pugeuwo, dia dan isterinya tinggal bersama-sama dan mereka dua di anugekan tujuh anak putra. Pada suatuh hari uwaii kagaa ingin memberi nama kepada anak-anaknya, lalu dia memperhatikan pekerjaan anak-anaknya itu gunaa untuk memberi nama pada suatuh hari dia bertemu satu anaknya sedang jalan-jalan dia kasi nama ‘’ uwiya’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya yang ke dua dia sedang teban kayu obaii dia memberi nama ‘’obaipaa’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya yang ketiga sedang cari burung dia kasi nama ‘’ bedopa’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya yang ke empat sedang sedang tebang kayu pakoo dia kasi nama ‘’pakopaa’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya sedang membawa cendawan kegii dia kasi nama ‘’kegiye’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya yang ke enam bawa datang kayu bakar dogomo di kasi nama ‘’dogomo’’ berikutnya lagi dia bertemu anaknya yang ketujuh pulang ke rumah langsun duduk di sudut dia kasi nama ‘’butu’’ setelah pemberian nama selesai masing-masing mencari tempat tinggal. Tiga bersaudara mereka menyeberangi kali beduu dan ambil tempat di sebelah kali beduu yaitu obaipa, bedopa dan pakopa, yang empat bersaudara lagi yang dapat nama dogomo dia keluar di luan dan mengambil tempat di ‘’nopee tapuu’’ kemudian pindah ke bediyaii,abauwoo, dan abaimaida ada juga di moanemani, yang dapat nama ‘’butu dan kegiye’’ dari degeuwo sama-sama menuju ke kepala air degeuwo sampai tibougii kegiye ambil tempat di maimanii butu ambil tempat di nagi tuguu dan makii nemoo, mereka berkembang dan mengambil tempat. Kegiye ambil tempat di kunuwoo, abouhagaa, magodee, dan momawagaa. Butu menyebar di bagian teuw, omakapauu, timepaa, ada lain yang ke pugatadii sampai sekarang yang ke tujuh dia menjaga tempat pugeuwo tapi ada juga yang pindah ke maikotuu dan motautouda
Penjelasan di atas adalah pembagian orang dari daerah degeuwo ke bagian kepala air degeuwo sendiri dan di bagian Mapia , setelah pembagian tempat dari situlah mulai di isi oleh manusia, nama yang di berikan oleh bapa mereka eyaakan itulah yang di jadikan marga dan tuju marga tersebut adalah manusia sejati, dari ketuju marga tersebut percaya belasar dari keturunan eyaakan.
Ada juga marga yang ada di pertengahan hidup manusia seperti marga-marga tertentu yang mereka percaya tercipta dari telaga yaitu marga tebai, setang laki-laki yang jadi manusia yaitu marga dogomo, dan berudu yang jadi manusia adalah marga pekei,ada juga yang percaya belasar dari ular yaitu marga tagi . mereka ini menika dengan manusia sejati dan berkembang biak, dari situlah di setiap kepalah air dan kaki gunung di isi oleh manusia.
2. organisasi sosial
A. PEMINAGAN
Nika adat dalam bahasa kami di sebut : onehaii mogehaii, nika adat di lakukan dari rumah keluarga pihak perempuan, jadi sebelum pihak laki-laki jalan ke rumah perempuan harus menyediakan bibit tebu, bibit keladii, bibit babi, dan megee sebagai sesuatu yang harus di persiapkan untuk menaro mas kawin yang telah di sepakati bersama, mepimping nika adat mempersiapkan udee ( sejenis pohon kecil ) yang sering di gunakan dalam acara pernikahan, dan beberapa lagu adat dan doa adat.
Setelah pihak lai-laki dan perempuan berkumpul, pemimpin acara nika adat bertanya kepada pihak laki-laki dan perempuan apaka semuah sudah sepakat untuk melakukan acara nika adat ini, setelah itu dia memulai dengan peroses nika adat yaitu dengan lagu dan doa adat dan dari situ di mulai dengan acara penyerahan mas kawin di lakukan dengan cara menaro mas kawin di atas koba-koba ekagee setelah itu baro di serakan kepada pihak keluarga perempuan, dan sejenis pohon kecil udee dan bibit tebu di taru di tengga mereka dua dan si pemimpin nika adat menyuru mereka berdua untuk melompok di atas tebu tersebut sebagai tanda telah di persatukan setelah itu tebu tersebut di tanam, dan masuk di acara adat yang berikut yaitu penyerahan bibit keladi dan bibit babi sebagai modal untuk kehidupan kedua insan, setelah itu di langjutkan juga dengan acara yang terakhir yaitu barapen, bernyayi lagu adat dan
.
B. Harta maskawin
Harta maskawin yang di siapkan adalah antara lain : uang pada masa nenek moyan kami sering di sebut ( megee ) sebagai harta mass kawin yang harus ada, bibit tebu, bibit keladi, dan bibit babi.
C. Penceraian
Setelah perkawinan sering tercadi penceraian karena beberapa hal adalah sebagai berikut : isteri tidak mempunyai anak karena tujuan perkawinan adalah untuk menambah keturunan, dan ada juga karena kekerasan dalam rumah tangga seperti istri selalu dapat pukul dari suami
Jadi jika penceraian tercadi karena tidak punya anak maka pihak perempuang mengembalikan maskawin sesuai dengan harta maskawin sebelumnya.
Penceraian karena dalam kehidupan rumah tangga tidak aman, biasanya keluarga pihak perempuang yang meminta cerai dari laki-laki karena tidak ingin melihat anaknya hidup menderita, penceraian semacam itu biasanya pihak perempuan meminta maskawin lebih dari sebelumnya sebagai balasan karena tidak mencaga istrinya dengan baik
D. Mata pencaharian
1. Berkebung
Sebelumnya melihat lahan yang kosong untuk berkebun, jadi biasanya di ambil tempat yang subur yang warna tanahnya hitam berbentuk pasir dan tana berlumut, dekat dengan kali, dan berkebung di dataran tinggi karna meman daeranya di pegunungan .
Ada pertimbangan dalam memili lahan untuk berkebun yaitu : topografi tanah, warna tanah, dan dekat dengan kali.
topokrafi tanah masyarakat suku mee lebi suka membuka ladan kebun, di antara bukit karna alasanya merasa terlingdungi dari ganguan, berdasarkan tingkat kesuburan warna tanah orang mee lebih suka berkebun di tanah yang berwarna hitam, dan tanah lumut, sementara buka ladan kebun di dekat kali untuk keperluan minum dan mandi di saat panas,
Berdasarkan topograpi tanah, orang mee lebi suka membuka lahan kebun di antara bukit alasanya karena merasa terlingdungi dari segalah yang membahayakan
berdasarkan warna tanah, orang mee lebi suka berkebun di tanah warna hitam itu karna tingkat kesuburannya tinggi, tanah warna hitam lebih cocok untuk menanam jenis sayuran dan di tanah lumut cocok untuk menanam jenis umbi-umbian
Sementara orang mee lebih suka berkebung di antara bukit karena merasa terlingdungi dari ganguan.
Setelah mendapat lahan untuk membuka kebun laki-laki melakukan penebangan kayu mengunakan kampak dalam bahasa mee di sebut maumii, dan mencabut rumput menggunakan tangan
Setelah pohong dan rumput sudah kering di lakukan pekerjaan membakar rantin dan rumput pekerjaan ini di lakukan oleh kaum perempuan, tujuan membakar rantin dan rumput kerin ini adalah untuk menambah kesuburan
Tahap selanjutnya setelah didiamkan 2-3 hari kaum perempuan melakukan penanaman bibit dalam bahasa mee di sebut bugiiweii, jenis tanaman yang di tanam antara lain : ubi jalar nutaa, keladi nomoo, sayur hitam ugubuu, tebuu etoo, ketimon tudaa, pisang kogou, dan momai howehay sejenis ubi jalar tapi umbi batanya tumbuh tinggi
setelah itu penanaman bibit di lakukan oleh kaum perempuan dan kaum laki-laki bertugas membuat pagar untuk melingdungi tanaman dari babi hutan
jika musim panen sudah tibah, tanaman yang pertama di panen adalah tanaman janka pendek seperti ubii jalar, keladi, ketimun, dan sayur hitam setelah itu baro masak ke tanaman janka panjan seperti tebu, pisang, dan ubii jalar yang batanya menjalar tinggi di batang yang di tanam di sekelilin itu.
2. BERBURU
Berburu dalam bahasa daerah di sebut gekaa nawii, peralatan berburu adalah seperti anak panah ukaa mapeka, tali beduu dan kayu buah kecil dalam bahasa daera pihaa tinoo untuk pasang cerat dalam istila lokal bokee mainaii, dan kampak maumii untuk keperluan meneban kayu dan poton hasil buruan, hewan yang di buruh adalah seperti babi hutan ekina, kuskus wodaa dan burung bedoo jadi biasanya dalam satu bulan tiga kali berburu, berburu di lakukan oleh sekelompok kaum laki-laki yang terdiri dari 10-15 orang jadi jika berburu biasanya di hutan sekitar satu minggu.
Jadi hasil buruan itu di bagi-bagi kepada keluarga, kepada orang tuah di sekitar mereka yang sudah tuah, dan lain di jual. jadi berburu di lakukan untuk memenuhi kebutuhan hewanii dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
3. Meramu
Jenis-jenis tanaman tertentu di sekitar lingkungan kami tinggal di mamfaatkan untuk keperluan sehari-hari seperti edegee ramuan, buah merah bii, hegekege sejenis rumput, buah tali oneebuwa, bayam merah gadaa idaha, jenis-jenis tanaman di atas di gunakan sebagai pengobatan teradisional untuk mengobati luka dalam maupun luka luar, daun gatal dalam bahasa daera di sebut pugee di gunakan untuk mengobati sakit apa saja. Suku mee membuat pakaian adat menggunakan Kulit kayu dalam bahasa daera di sebut bebii di gunakan untuk membuat/ mengayam noken agihaa, cawat mogee pakaian adat untuk kaum perempuan dan juga untuk anak laki-laki dan perempuan kecil di buat cawat kecil dari kulit kayu di sebut moo. Terus tanaman bobee buanya di ambil untuk membuat kotekaa pakaian adat kaum laki-laki